Posts

Jasa penerjemah profesional jakarta TB simatupang

Laman Terjemahan Bahasa Menyatukan Keluarga

Jasa penerjemah profesional jakarta TB simatupang

Laman penerjemah bahasa saat ini, seperti Google Translate dengan segala keterbatasannya ternyata telah mampu menyentuh hidup banyak orang dan menyatukan mereka.

14,412 kilometer dari Jakarta, di Mountain View California, mesin penterjemah Google telah memberikan kehidupan baru bagi seorang anak yatim piatu di China. Google Translate, telah memberikan keluarga dan rumah baru bagi Guan Ya, seorang anak di China yang bisu dan tuli.

Beberapa tahun yang lalu, pada tahun 2013, Phillip dan Niki Smith yang berasal dari daerah pedesaan di Mississippi melihat Guan Ya melalui internet. Saat itu Niki melihat halaman foto – foto anak yang belum mendapatkan orangtua angkat di China. Tetapi, mereka telah memiliki 3 orang anak dengan seorang anak berusia 3 tahun yang diadopsi dari China. Jadi, keluarga ini tidak lagi memiliki niat mengangkat seorang anak lagi. Hingga Niki melihat foto Guan Ya.

““Saya merasa ia adalah anak saya sejak pertama kali melihatnya di Internet.”

Tetapi, tantangan untuk mengadopsi Guan Ya cukup besar. Saat itu, Guan Ya hampir berusia 14 tahun. Ini adalah usia yang secara hukum tidak diperkenankan untuk diadopsi oleh pemerintah China. Guan Ya juga seorang yang tuli dan tidak bisa berbahasa Inggris. Guan Ya bahkan tidak bisa berbicara samasekali, dia bisu.

Dengan waktu yang hanya tersisa beberapa bulan, pasangan ini tak pernah menyerah. Dengan dukungan dari pemerintah China dan Amerika, mereka menerobos birokrasi dengan berturut – turut mengirim formulir dan surat elektronik yang diterjemahkan penerjemah – penerjemah online. Hingga akhirnya, Niki menerima surat elektronik dari Guan dalam bahasa China dan berhuruf kanji.

“Saya tidak mampu memulai membaca surat ini,” kata Smith.

Disinilah Google Translate mengambil perannya. Tuan Smith mengkopi dan mempaste tulisan di email tadi dan secara ajaib, pikiran Guan Ya muncul.

Dan saat itu, dimulailah konversasi yang menghangatkan hati diantara mereka, tentang cinta, keluarga dan kehidupan.

“Komputer dan perangkat lunak hanyalah alat, tetapi tidak ada keraguan bahwa keduanya membuat ikatan diantara kami lebih mudak dibentuh,” kata Niki Smith.

Google saat ini, setiap hari menterjemahkan setara 1 juta buku dengan konten apapun dari mulai resep, teknologi hingga pengumpulan data intelejen negara. Pada bulan Mei 2017, Google translate telah mampu menerjemahkan lebih dari 100 bahasa dari Bahasa Afrika hingga Yiddish. Google translate dapat digunakan dengan pengenalan suara dan telah digunakan sebagai aplikasi smartphone yang tetap berfungsi saat offline.

Teknologi penerjemahan ini masih berkembang hingga saat ini. Meskipun demikian, Franz Och, ahli penerjemah dari Google mengatakan bahwa dia merasa bahagia saat mendengar bahwa keluarga Smith dan anak perempuanya Guan Ya, tinggal dan berkomunikasi setiap hari menggunakan Google Translate.

“Sepanjang hari saya melihat algoritma, algoritma, algoritma,” Och sangat bahagia bahwa Google Translate bisa menyentuh kehidupan banyak orang.

Terjemahan mesin sendiri muncul saat usai perang dunia ke 2. Saat itu para pembuat kode berfikir bahwa membaca sandi dalam beberapa hal adalah masalah matematika. Warren Weaver, pada 1949 membuat dalil yang digunakan sebagai dasar komputasi bahasa / linguistik.

Sang ilmuwan berpengaruh ini bahkan menyatakan bahwa: “sepertinya masalah terjemahan dapat diselesaikan dengan tuntas.”

Tetapi, hingga kini 69 tahun sesudahnya, penerjemahan bahasa oleh mesin masih dianggap jauh dari sempurna.

Sejumlah peneliti dari Afrika Selatan di Pusat Bahasa Matieland pada tahun 2013 lalu menerbitkan sebuah studi. Mereka membandingkan dokumen – dokumen bahasa Afrika dan Inggris yang diterjemahkan oleh penerjemah – penerjemah profesional dan mesin.

Hasilnya, hasil penerjemahan mesin bahkan dibawah standar, teks – teks yang dihasilkan memerlukan editing lebih lanjut supaya memenuhi fungsinya.

Jamie Lucero, kepala progran terjemahan dan interpretasi di Bellevue College di Washington menyatakan bahwa kita tidak bisa memasukkan semua ke mesin penterjemah dan akan mendapatkan hasil sesuai harapan kita begitu saja.

Penerjemahan yang membutuhkan sintaks yang kompleks, literatur serta dokumen kualitas tinggi lainnya sangat penting diterjemahkan oleh manusia. Mesin penerjemah tentunya bisa membantu, tetapi, hanya bagi mereka yang sekedar ingin menyampaikan maksudnya saja.

Selain itu, Dia juga menyatakan bahwa mesin penerjemah milik Bing dari microsoft lebih unggul dari Google untuk penterjemahan terkait teknologi tinggi dan software.

Jennifer Uman dan Valerio Vidali adalah contoh lain dari mereka yang disatukan oleh Google Translate. Mereka menggunakan Google Translate untuk berkomunikasi dan menulis buku anak – anak “Jemmy Button.”

Terjemahan Google Translate awalnya terlihat aneh. Kata – kata seperti “Itu terlihat hebat” terbaca sebagai “saya membangkitkan banyak ilusi.”

Namun bertahun – tahun kemudian kualitas terjemahan Google semakin membaik. Mereka juga mengetahui bagaimana menggunakan terjemahan tersebut sehingga kerjasama mereka bisa terus berlangsung.

Seorang Blogger dari Angola mengaku bingung ketika 1 dari 4 pembacanya ternyata adalah orang Amerika. Dia, Rosie Alves menulis dalam bahasa Portugis di blognya dari Luanda.

Alves, menggunakan Google translate untuk menjawab surat surat elektroniknya dengan kantor The Associated Press.

Menurutnya, penerjemahan mesin tidak 100% aman. Tetapi, Dia bisa mengetahui ada orang lain yang tertarik tulisannya dan berusaha memahaminya dengan Google Translate. Menurutnya, ini adalah bagian yang terbaik.

14,500 km dari Luanda, kembai ke mountain View di California, Google terus menggunakan algoritma yang selalu berubah untuk mendeteksi pola teks yang sudah pernah diterjemahkan oleh manusia. Google terus mengumpulkan lebih banyak lagi “data” untuk membuat hasil terjemahannya semakin akurat.

Och, memimpin tim yang berasal dari programer dan ahli komputer. Mereka tidak memiliki ahli bahasa India, Kerala dan bahkan bahasa Latin. Selain itu, tidak ada staf berbahasa berbagai macam yang akan mereka terjemahkan yang bisa dimintai bantuan di kantor.

Bagi mereka, semakin banyak data, semakin akurat hasil penterjemahannya. Ketika penerjemah mesin ini telah cukup presisi, Och dan timnya akan melaunching ke publik.

Meskipun begitu, beberapa program diluncurkan lebih awal dari yang semestinya. Saat Iran mengalami krisis setelah pemilu 2009, Google meluncurkan penerjemah bahasa Persia dengan memberi catatan bahwa program masih dikembangkan. Saat gempa besar Haiti 2010, beberapa hari kemudian Google Translate berbahasa Haiti Creole dirilis dan digunakan secara luas oleh para petugas keselamatan dan para pemberi bantuan internasional.

Pada hari Minggu di Mississippi, di sebuah pasar swalayan di Rienzi, seorang Ibu dan anak saling bertukar iPhone. Mereka berbelanja menelusuri lorong – lorong swalayan dan membahas apa yang akan mereka masak.

Baru beberapa waktu yang lalu sejak Guan Ya mengirimkan surat elektroniknya. Dia mengatakan bahwa Dia belum pernah berbelanja dan keluarga Smith tidak perlu repot membawakannya apapun. Guan mengatakan bahwa Dia tidak tahu apa yang disukainya tetapi Dia menyukai cokelat. Guan Ya juga sempat bertanya apakah calon keluarganya sudah sampai di China? Guan Ya tidak akan takut dan sangat bahagia.

Beberapa minggu yang lalu, mereka bertemu pertama kalinya. Saat itu Guan Ya memberitahu bahwa Ia sangat ingin bisa mendengar, lebih dari segalanya.

Beberapa Dokter di Mississippi, menyarankan implan koklea dan alat bantu dengar dapat membantu menanggulangi permasalahan yang ada.

Tetapi, setidaknya mesin Google Translate telah menjadi suara dan telinga bagi Guan Ya.

Sejak surat – surat pertama hingga saat ini, mereka rutin menulis dan bertukar tiga kata yang berisi hanya delapan huruf dalam Bahasa Inggris. Mereka bertukar 3 huruf kanji dengan beberapa garis dan lengkungan yang berbunyi “I Love You.”

Sumber: Martha Mendoza.